Serambi Pirous

Pameran Arsip Artikel #1

PAMERAN ARSIP ARTIKEL #1: BECOMING PIROUS

Kisah Karung Goni

Dipublikasikan di: Kompas, 29 Sptember 2018

Wawancara – Putu Fajar Arcana

A.D. Pirous hampir identik dengan seni kaligrafi. Tahun 1972, ia menghebohkan jagat seni rupa Tanah Air karena pameran tunggal pertamanya menyuguhkan seni kaligrafi islami. Padahal, waktu itu, Pirous belum lama pulang untuk studi seni grafis di Amerika Serikat. Ia menyebut perjalanan ini sebagai “berjalan ke Barat untuk menemukan Timur”.  

Bukan berarti jejak formalisme, yang dikenal kemudian sebagai mazhab Bandung, dalam dirinya luntur. Pirous bahkan mendirikan Studio Desain Grafis di Jurusan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB), di mana ia menjadi dosen. Pendirian studio ini terjadi pada tahun yang sama dengan pameran tunggal pertamanya. Pirous kemudian diangkat menjadi ketua studio dan menjadi dekan pertama Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.

Artinya, meski ia memilih berkarya lewat kaligrafi islami, yang menonjolkan identitas ketimuran, pendiriannya sebagai seorang formalis masih berjejak sampai kini. Berikut petikan wawancara dengan A.D Pirous, Minggu (16/9/2018), di galeri dan studionya yang asri bernama Serambi Pirous di Bukit Dago Pakar Timur, Bandung.

Mengapa Anda perlu ke Barat untuk mencari Timur, kan lebih dekat kalau ke Timur langsung?

Ini proses yang membutuhkan jam terbang. Proses membuat orang berubah. Pada sekitar tahun 1970-an di Amerika (Serikat), sikap saya berkesenian sesuai ajaran-ajaran yang saya dapat di akademi. Karena waktu itu, karya-karya itulah yang dihargai dunia. Tidak penting memaksa diri menjadi Indonesia.

Berangkatlah saya ke Amerika, tiga bulan sekali bisa mengunjungi pusat-pusat seni di New York. Saya banyak menonton pameran besar dari India, China, Korea, dan lain-lain negara. Para pelukis Jepang dan Korea, misalnya, tetap menampakkan kejepangan dan kekoreaannya. Ada identitas yang mereka usung dalam pergaulan seni rupa dunia. Saya terkejut melihat posisi saya yang berjarak ribuan mil dari Indonesia. (Rupanya) kita harus proaktif mencari diri sendiri sebagai Indonesia. Saya bolak-balik cari sendiri…..

Apa yang saya temukan?

Saya lihat kebetulan ada seni lukis islami, banyak (juga) kaligrafi di New York. Saya terkejut, saya seperti kembali ke masa kecil. Barang itu tersedia di makam dan lain-lain. Ini yang saya cari. Tetapi, terpotong, disconnected setelah belajar di akademi. Saya berjalan ke dunia Barat untuk mencari ketimuran saya. Saya pulang, saya eksplorasi ke Aceh. Tahun 1972, saya pameran pertama dengan kaligrafi modern. Orang-orang terkejut semua. Dan, itu yang berkembang selama ini, kira-kira sudah 47 tahun. Saya melukis mulai tahun 1960-an.

(Tahun 1969, Pirous belajar desain dan seni grafis di The Department of Arts, Rochester Institute of Technology, Rochester, New York. Sepulangnya dengan semangat menggebu ia mendirikan studio grafis di ITB, bahkan kemudian menggelar Pasar Seni ITB tahun 1971. Sikap ini mencerminkan dua sisi karakteristik Pirous dalam menekuni dunia kesenian).

Selain menekuni kaligrafi untuk mencari identitas ketimuran, Anda juga menggelar Pasar Seni ITB tahun 1971, sepulang dari Amerika. Jadi, apa yang Anda cari sesungguhnya?

Ketika pulang dari Amerika dan berkewajiban membuka departemen baru, saya juga bawa tradisi baru karena ikut art fair di sana. Rakyat datang semuanya, ibu rumah tangga juga datang. Itu dari pagi sampai sore. Nah, ini kok bagus sekali. Di sini terjadi pertemuan orang yang menciptakan dan yang akan menghargai, yang tidak mendapatkan penghargaan di galeri. 

Pasar seni itu mempermudah, cukup bawa tali digantung. Semua orang yang kreatif dapat kesempatan memamerkan karya. Itu yang saya bawa pulang, saya (bikin) Pasar Seni ITB 1971. Tiba-tiba terjadi pasar di Jalan Ganesa, itu 40-an tahun lalu. 

Saya undang mulai dosen, guru-guru, dari Tasikmalaya, dari Garut yang bikin batik, bikin tikar, semua habis, semua happy. Pasar ini yang membuat seni tidak mengapung di udara, diletakkan di bumi. Siapa saja bisa membuat dan kemudian membeli seni. Ini bisa membantu ekonomi Indonesia. Bisa merangsang manusia menjadi kreatif.

Sebenarnya Anda berpegangan yang mana, formalisme seni seperti diusung akademi, atau seni kerakyatan seperti Pasar Seni ITB itu?

Pasar seni memberi atmosfer baru, as a creative city dan ini sudah berlangsung sebanyak 11 kali. Saya tidak mau mengatakan ini cikal bakal Bandung kota kreatif. Ujung dari Pasar Seni ITB itu, Bandung tidak akan seperti sekarang ini jika tidak bisa pelihara Pasar Seni yang tiga tahun sekali ini. Itu yang membuat kota dan penduduknya yang menghargai penciptaan. Ini dampak dari penghargaan manusia kepada seni dalam artian yang lebih estetik dan etik. Ini dekat sekali. Jadi, cantik dan jujur itu dekat. Cantik itu penampilan, etik itu sikap hidup. Saya rasa itu penyebabnya. Kita tidak akan melihat Bandung dengan garmen dan lain-lain kalau tidak ada tradisi pasar seni itu.

Jadi apa sebenarnya tugas seorang seniman dengan karya-karya yang dia hasilkan?

Di sini ada sekolah seni rupa, ada komunitas-komunitas seni rupa. Saya selalu men-trigger mereka, coba jangan hidup sendiri. Berkarya itu dekat sekali dengan kemanusiaan, yang mendapatkan manfaat dari karya itu. Jangan dibuat diisolasi, adakan komunikasi yang terbuka. Caranya seperti ini (pameran koleksi). Cara ini paling cocok dengan masyarakat global. Sebab, negara kita belum sampai pada tradisi di mana kota berkembang bukan hanya gedung-gedung, melainkan juga museum-museum. Itu yang belum tercapai. Kalau ada galeri-galeri, itu komersial, bagaimana mendapatkan untung. Beli 10 jual 20. Kita harus perbanyak galeri nirlaba seperti ini, kita harus sharing pengetahuan. Nah, ini yang mencipta dan yang menghargai penciptaan itu.

Di Serambi Pirous sedang berlangsung pameran karya-karya yang dikoleksi A.D Pirous sejak 50 tahun terakhir. Ia mengumpulkan karya-karya para seniman dengan beragam cara, dari saling tukar, membeli, sampai beberapa ada yang diberikan oleh senimannya. Semua koleksi itu, kata Pirous, disimpan secara baik dalam satu tempat bernama Kabinet Serambi.

Apa motivasi Anda mengoleksi karya-karya para seniman? Padahal, Anda lebih dikenal sebagai seniman dan bukan kolektor?

Umumnya seorang kolektor banyak uang, dia tinggal tunjuk (karya) dia bisa bayar. Saya tidak seperti itu. Pertama saya sadar bahwa disamping mengoleksi karya orang lain, saya termasuk orang yang menciptakan sesuatu. Sesuatu yang didukung penuh oleh wawasan berkarya. Sebab, kesenian itu selalu ada dua unsur yang bergabung jadi satu: teknik dan ide. Teknik bisa diperkaya dan ide bisa berkembang.

Makin banyak saya mendapatkan karya teman-teman saya, maka makin kaya saya di dalam wawasan itu. Jadi, berangkat dari kesadaran seperti itulah saya mencoba mengumpulkan karya-karya seperti itu dengan cara menukar dengan karya sendiri, harga persahabatan, workshop bersama, atau saya harus beli.

Setelah mengumpulkan karya selama 50 tahun apa sih kesadaran saya waktu itu? Pertama, saya kembangkan kecerdasan memilih. Mana karya yang akan memberikan kekayaan wawasan kepada saya. Kemudian, bagaimana mendapatkan karya itu: apakah saya bisa mendapatkannya tanpa uang karena saya mahasiswa yang terbatas kemampuan keuangannya. Bukan orang kaya. Setelah karya itu dapat, saya tak punya rumah. Karya ini harus disimpan. Karya itu sebaiknya disimpan pada tempat yang natural untuk dia, kalau lukisan di dinding, kalau patung di lantai. Butuh space. Itu tidak selalu ada pada saya. 

Apa yang Anda lakukan setelah memilih karya untuk dikoleksi?

Jadi sekarang ada, kecerdasan memilih, kecerdasan mendapatkannya, dan kecerdasan memeliharanya. Bagaimana karya-karya ini, kebetulan banyak grafis, drawing, patung. Karya drawing mudah bisa dimasukkan di file. Ini soal memelihara sebab banyak sekali orang yang pintar membeli, tapi tidak mampu memelihara. Setelah mendapatkannya, saya melakukan dialog dengan karya-karya itu. Setiap waktu saya buka file-file. Bukan mengoleksi karya saja, tetapi juga memelihara pikiran-pikiran yang ada pada senimannya. Dengan begitu, manfaatnya pada saya menjadi besar. Itu artinya bagaimana memanfaatkan karya itu untuk kepentingan orang banyak. Bukan hanya kepentingan saya. Makanya , ada pameran ini. Pameran ini satu upaya beneficial untuk orang lain.

Siapa orang lain itu?

Ada macam-macam. Tetapi, yang pertama adalah kelompok-kelompok seniman muda. Saya ingin memberikan suatu contoh, kalau Anda sebagai seniman, kalau kalian berkarya makin lama berkembang itu cukup bagus, tetapi tidak cukup (sampai) bagus saja. Baru good enough itu apabila kalian mengoleksi karya orang lain. Dengan cara itu kalian memperkaya batinnya.

Adakah karya yang Anda dapatkan dengan cara yang sangat berkesan?

Salah satunya karya Rieswandi, anak muda (yang punya karya) seperti dugong itu. (Pirous menunjuk karya Rieswandi berjudul “Ikan Paus dengan Tunggangannya”, berukuran 70 x 200 cm, yang sedang dipamerkan di Serambi Pirous). Itu menyangkut sejarah saya. Ini dibuat seniman tahun 2006. Sejarah saya, pada tahun 1960, ketika pertama kali ikut pameran formal. Saya pameran bersama para senior seperti But Mochtar dan Srihadi. Kita pameran di Balai Wartawan Bandung. Pagi-pagi ada seorang asing masuk ruangan. Dia bolak-balik dan berhenti di depan lukisan saya. Saya senang lukisan Anda, katanya. Padahal, saya lukis di atas karung goni, bukan kanvas. (Itu pun) saya beli di pasar loak. Saya belum bisa beli kanvas. Apakah karya ini dijual, tanya dia. Saya terkejut, saya tidak mengharapkan karya dalam pameran pertama dijual. Saya jawab “Iyeeeess..” Dia tanya lagi, how much, saya bingung. Saya lari ke But Mochtar, saya konsultasi, ya katanya 7.500-lah karena dia sudah jual 30.000. Dan, saya jual 6.500. Saya kurangi seribu. Okey, I take it, kata dia. 

Waktu dia beli, saya merasa Tuhan memberi tanda kepada saya. Dia orang Kanada dan kerja di UNESCO. Saya tiba-tiba seperti diangkat oleh Yang di Atas, saya harus jadi seniman. Ini harus saya bagi kepada orang lain. Lalu, saya buat rumah ini tahun 2003, tahun 2006 ada seorang anak ketok rumah (Pirous benar-benar mengetok dinding). Permisi, katanya, maafkan perkenalkan saya Rieswandi dari ITB, saya mau pameran sama Ay Tjoe, siapa tahu kalau bapak suka membuka pameran kami. Ini anak kok semangat, okelah. Saya tanya dia, Ries, kamu ada mau jual lukisan enggak. Ada katanya. Oke kalau gitu saya beli ya? Dia mikir bapak ini beli atau minta. Dia kasih harga Rp 7,5 juta, saya enggak mau, saya mau Rp 6,5 juta saja. Terus dia bawa ke rumah. Itulah lukisan itu sekarang…

Apa pesan dari cerita Anda ini?

Saya cerita ke dia (Rieswandi), dulu ketika saya muda, 46 tahun lalu, saya diberi tanda oleh Yang di Atas, saya harus bagikan kepada orang lain. Sekarang saya berikan kepada kamu. Ini uangnya. Ini sekarang bebannya saya bagikan kepada kamu. Sudah saya share nasib baik itu kepada orang lain. Dan, alhamdulillah anak itu berkembang menjadi pelukis. Ya, saya beli harganya Rp 6,5juta. (Dulu) karya saya dibeli dengan uang Rp 6.500, saya bisa hidup tiga bulan. Itu lukisan pertama yang dibeli orang. 

Apa yang membuat Anda begitu bersemangat dalam melakukan pekerjaan ini?

Saya ini guru. Sebagai guru, saya inginnya orang lain lebih pinter dari saya. Pak Sunaryo (pemilik Selasar Sunaryo Art Space) itu murid saya tahun 1962. Dia itu umurnya 76, saya 86, saya masih berkarya. Saya tidak pernah menggantungkan hidup saya dari gaji sebagai guru. Itu pasti tidak cukup. Apakah dengan begitu saya menggantungkan hidup pada lukisan, itu juga tidak. Saya juga bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang halal dengan membuat desain. Pokoknya ada motivasi di dalam.

Setelah itu obsesi Anda apa lagi?

Ya kuburan barangkali… ha-ha-ha… Sudah 86 tahun saya. 

Suka duka Anda sebagai seniman?

Dukanya banyak, tidak bisa beli kanvas, pakai karung. Tidak bisa beli cat, bikin cat sendiri. Jangan pernah jadi seniman itu menjadi korban dari kemanjaan diri sendiri. Mau jadi seniman harus banyak tahu proses. Ada suatu sudut, orang tak hanya cukup jadi seniman, tetapi menjadi teknolog kecil-kecilan dalam dirinya sendiri. Seni dengan teknik itu jadi satu. Banyak seniman sekarang tidak peduli pada hal itu. Berkesenian tidak sekadar mengembangkan imajinasi, tetapi juga pengayaan dalam mencoba mengolah teknologi (pada) karya kita.

Sampai sekarang masih beli karya?

Sekarang sampai pada situasi di mana orang bangga kalau memberikan karyanya kepada saya. Ada banyak mahasiswa yang mau kasih karya. Saya terima, tetapi jangan sampah yang diberikan kepada saya 

Sumber Asli: Kompas, 29 September 2018

PAMERAN ARSIP ARTIKEL #1

PAA-01-becoming-logo
ARSIP ARTIKEL

Berguru Pada Nisan Aceh

ARSIP ARTIKEL

Sang Imam Seni Kaligrafi

ARSIP ARTIKEL

Setelah Ja'u Timu

ARSIP ARTIKEL

Islamic Painting Pioneer

ARSIP ARTIKEL

Kisah Karung Goni

ARSIP ARTIKEL

The Equilibrium of Aesthetic and Ethic

Address

Jl. Bukit Pakar Timur II/111
Bandung, 40198
Indonesia.

Hours
Tuesday – Sunday:
10:00AM – 5:00PM

Phone

+62 22 2530966
(office hour only)