Serambi Pirous

Pameran Arsip Artikel #1

PAMERAN ARSIP ARTIKEL #1: BECOMING PIROUS

Sang Imam Seni Kaligrafi Indonesia

Dipublikasikan di: Majalah Tempo, 3 Agustus 2014

A.D. Pirous telah menekuni lukisan kaligrafi Islam lebih dari 40 tahun. Dialah yang mengusung kaligrafi sehingga menjadi genre tersendiri dalam peta seni rupa Indonesia. Berikut ini kilas balik perjalanannya.

Abdul Djalil Pirous, 82 tahun, duduk bersama istri, Erna Garnasih 77 tahun, di studio lukis berukuran sekitar 100 meter persegi di lantai bawah rumah mereka. Bertopi pet cokelat muda, berkemeja, dan memakai pantalon sewarna tapi lebih pekat, Pirous terlihat santai di rumahnya di Jalan Bukit Pakar Timur II Nomor 111, Bandung, 12 Juli lalu.

Siang itu dia tengah rehat melukis. Terkadang dia berjalan ke teras studio yang berdampingan dengan taman belakang, meninggalkan sebuah lukisan abstrak berwarna dominan putih dan kuning yang belum selesai. Lukisan berukuran 1,5 meter persegi itu terpajang di atas kayu penyangga dekat ujung studio.

Di sekitar tempat kerja Pirous, puluhan tube cat berjajar di rak dekat meja panjang yang penuh peralatan melukis. Studio itu juga sesak oleh lukisan-lukisan besarnya di dinding dan berdiri berimpitan di lantai, tapi tetap tertata apik. Di lantai, tergolek tiga lukisan baru seukuran 1-2 meter persegi bercorak abstrak dan kaligrafi. “Itu untuk persiapan pameran di Malaysia,” katanya.

Sejak pensiun sebagai dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung pada 2002, Pirous total menjadi seniman. Setiap hari dia tekun melukis sambil berdiri. Biasanya dia melukis dua jam sejak pagi. Setelah itu, dia harus beristirahat karena kakinya membengkak.

“Tapi kadang suka keasyikan sampai sampai empat jam. Saya akan meminta Bang Pirous istirahat,” ujar sang istri, Erna. Waktu jeda kerap dimanfaatkan Pirous dengan menonton film–salah satu hobinya selain membaca buku. Koleksi cakram padat film (DVD) miliknya mencapai 4.000-an judul Indonesia dan asing dengan beragam genre.

Lahir di Meulaboh, Aceh, 11 Maret 1932, Pirous anak kelima dari tujuh bersaudara keluarga Mouna Noor Muhammad dan Hamidah. Nama Pirous merupakan tambahan yang diberikan mendiang ayahnya. Sebab, saat ia lahir, di lengan kirinya terdapat tanda lahir berwarna biru seperti batu pirus.

Adapun bakat seninya, Pirous menduga itu mengalir dari ibunya. Sang ibu pandai menyulam dengan laken dan sutra. Dari ibunya, dia mengenal proses membuat sketsa seperti gambar daun yang dibuat abstrak dengan tinta Cina, lalu disulam. Kain-kain sulaman hasil karya ibunya menjadi warisan keluarga ketika Hamidah meninggal pada 1957. “Saat tsunami Aceh, puluhan kain itu hilang. Hanya tersisa satu yang saya simpan,” katanya.

Pirous menempuh pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama di Meulaboh. Sekolahnya sempat terhenti ketika Agresi Militer II Belanda berkecamuk pada 1948. Bersama pemuda lain, Pirous terlibat sebagai tentara pelajar. Dia ditempatkan di barisan propaganda. “Tugasnya membuat poster-poster perjuangan bersama lima-enam orang seumuran,” ujarnya. Poster dari kertas itu dibuat dan dicetak diam-diam untuk dipasang di dinding-dinding kota pada malam hari. “Itulah pertama kalinya saya membuat gambar.”

Pada 1950-an, Pirous berhenti menjadi tentara. Dia menyusul kakaknya melanjutkan sekolahnya di Medan hingga tamat sekolah menengah atas. Di sela sekolah di Medan, dia mencari uang dengan membuka lapak sebagai penggambar jalanan. Gambarnya dengan sapuan kuas bertinta Cina, seperti kartu hiasan hari kelahiran, potret pemesan, hingga gambar wajah tokoh, seperti Bung Karno, Kartini, dan Gandhi. Gambar seukuran kertas folio itu kemudian dibingkai. “Lumayan laku gambarnya karena semangat kemerdekaan saat itu sedang bangkit,” ucapnya. Kadang ia sampai bisa mengajak beberapa temannya makan di restoran. Selain menggambar, Pirous berjualan rokok di kios pinggir jalan.

Keterampilan menggambar itu pun mengantarnya sebagai juara di sejumlah lomba pelajar di Medan. Guru gambarnya di SMA menyarankan Pirous kuliah di kampus seni yang ada di Bandung atau Yogyakarta. Tamat SMA, ia melamar ke kedua kampus itu, dan mendapat balasan dari ITB. Ditemani kakaknya yang nomor dua, Zainal Arifin, Pirous ke Bandung pada 1955. Dia mengambil Jurusan Pendidikan Seni Rupa. Itu karena ia ingin menjadi guru ketimbang seniman. “Sebab, saat itu menjadi guru lebih jelas daripada seniman yang belum dikenal masyarakat,” katanya.

Menjelang selesai kuliah pada 1959, Pirous menunda tugas akhir. Selama tiga-empat tahun, sambil menjadi asisten pengajar di kampusnya, dia menjadi pelukis di rumah sewanya. “Agar menjadi guru yang baik, saya perlu punya pengalaman praktek sendiri dengan melukis,” ucapnya.

Bersama sejumlah pelukis, seperti Boet Muchtar, Srihadi Soedarsono, dan Sadali yang aktif di sanggar seni di Jalan Siliwangi, Bandung. Pirous menggelar pameran bersama perdana pada 1960 di gedung Bale Wartawan, seberang Hotel Savoy Homann. Dia membuat beberapa karya semi-abstrak. Salah seorang pengunjung, pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menginap di Hotel Savoy bernama Crabtree, ingin membeli lukisan Pirous yang bergambar semi-abstrak ayam-ayam di kebun. Lukisan itu berbahan karung goni halus, karena Pirous belum sanggup membeli kanvas. Setelah bertanya tentang harga yang pantas kepada Boet Muchtar, karya Pirous dijual seharga Rp6.500, atau masih di bawah harga lukisan Boet yang dibanderol Rp 25 ribu. Uang sebesar itu sanggup untuk menghidupinya selama dua bulan. “Itu akad saya untuk jadi seniman, merasa jalan yang saya tempuh sudah benar,” ujarnya.

Pada 1964, Pirous menamatkan kuliahnya di ITB. Skripsinya berjudul “Seni Pariwara sebagai Alat Propaganda Perjuangan” membahas perjalanan iklan sebagai instrument dalam menjaga keutuhan Republik Indonesia setelah Prokamasi 1945. Sejak masa itu hingga 1965, Pirous, yang telah diangkat sebagai dosen tetap, hanya aktif mengajar di almamaternya. Kiprahnya sebagai pelukis muda tiarap sementara karena situasi politik yang masuk ke jalur kesenian. Berada di garis kelompok Manifesto Kebudayaan, Pirous berhadapan dengam mahasiswa dan kelompok pendukung Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Ketegangan saat itu tidak hanya muncul dalam diskusi dan ruang kuliah. Pernah pula ketika pemerintah Amerika Serikat membawakan karya-karya seni grafis untuk dipamerkan di ITB, kata Pirous, dosen Sadali menarik sekelompok mahasiswa. Di ruang kelas tertutup, ia membongkar isi peti dan menunjukkan satu per satu karya kepada mahasiswa. Begitulah pameran darurat ketika itu. “Kalau sampai dipamerkan terbuka, khawatir akan dilabrak hingga karya dibakar,” katanya.

Sentuhan pertama Pirous dengan seni kaligrafi terjadi pada 1970-an. Saat itu, ITB mengirim Pirous studi seni dan desain grafis di The Departemen of Arts Rochester Institute of Technology, Rochester, New York, Amerika. Semasa kuliah di Negeri Abang Sam, dia rajin mengunjungi museum dan galeri seni di sana. Ketika mengunjungi pameran besar seni tradisional Islam di Metropolitan Museum of Art, New York, Pirous terpana. Karya kaligrafi yang dipamerkan membuat dia teringat pada artefak kaligrafi Islam yang banyak tersebar di kampung halamannya di Aceh.

Dari situlah kemudian tercetus ide Pirous menggali kekayaan tradisi di kampungnya untuk melahirkan identitas seni rupa baru: melukis dengan corak kaligrafi. Sepulang dari Amerika pada 1970, Pirous melakukan penelitian kaligrafi Islam di situs, malam kuno, masjid, dan rumah tradisioal di Aceh. Sejak itu, ia mulai melukis kaligrafi.

Pada 1972, Pirous menggelar pameran tunggal bertajuk “Pameran Seni Lukis-Kaligrafi-Islami” di Jakarta. Dia memajang 20 karya lukisannya dengan corak kaligrafi. Boleh dibilang pameran ini merupakan pameran tunggal kaligrafi pertama di Indonesia. Dan pameran ini menjadi titik awal tumbuhnya seni lukis kaligrafi di Tanah Air.

Yang menarik, karya-karya yang ditampilkan di pameran itu berbeda dengan lazimnya kaligrafi yang memakai ayat suci Al-Quran. Pirous hanya memakai bentuk-bentuk huruf Arab yang dibuat dinamis secara visual, sehingga diharapkan ekspresinya bisa merasuk ke perasaan orang. “Dengan begitu, kebebasan berekspresi saya sangat penuh,” ucapnya.

Pirous mengatakan dia memisahkan garis tegas antara Islam, Arab, Indonesia, dan kaligrafi ketika merumuskan identitas karyanya. Arab memang tempat kelahiran agama Islam, kemudian berkembang ke bangsa dan etnis lain di luar Arab. Pirous menganggap dirinya sebagai muslim di luar Arab, dengan tradisi dan kebudayaan yang berbeda dengan orang Arab.

“Kaligrafi itu sebenarna suatu media bentuk yang bisa dipakai sebagai alat komunikasi dan ekspresi. Saya masuk ke huruf (kaligrafi) itu sebagai alat seni, bukan alat berita saja,” katanya. Bagi Pirous, huruf merupakan bentuk semi-abstrak. Susunannya bisa menghasilkan bunyi, arti, pendapat, filosofi, pemikiran, dan pesan. “Kekuatan huruf seperti itulah yang saya pakai,” ujarnya.

Setelah beberapa kali menggelar pameran lukisan kaligrafi, Pirous mendapat respons dan banyak pertanyaan pengunjung, seperti karyanya itu apa dan lukisannya tentang apa. Setelah lama berpikir, Pirous akhirnya berdamai dengan dirinya sendiri. Ia ingin menjadi insan kamil yang karyanya berguna buat orang lain. Akhirnya, ia memutuskan aksara Arab pada karyanya bisa terbaca sampai ke pesannya, seperti seni kaligrafi yang sudah umum. “Konsekuensinya, itu membatasi kebebasan saya berkarya dan jadi harus hati-hati, tidak boleh salah mengutip ayat suci,” katanya.

Toh, Pirous tetap ingin bebas. Ia tidak mau berpatokan pada standar penulisan kaligrafi yang sudah mapan digunakan para kaligrafer. Dari pengalamannya mengajar seni huruf dunia, ia tahu bagaimana bentuk huruf itu terkait dengan alat dan materi yang dipakai. Kuas, bolpoin, dan pahat memunculkan jenis hurud yang berbeda. “Kaligrafi juga seperti itu, sangat bebas tumbuh,” ujarnya.

Tema lukisan kaligrafi Pirous lebih banyak menanggapi kondisi zaman dan situasi di masyarakat. Sebagian lagi bertema personal, berupa catatan perjalanan hidupnya dengan orang-orang terdekat. Ia menilai melukis seperti mencatat peristiwa pengalaman dan spiritualitasnya. Pada karya merjudul Memanjatkan Doa Dini Hari, misalnya, doa itu seperti pancaran garis merah yang memanjang vertikal serta menembus bumi dan langit.

Adapun tanggapan Pirous terhadap situasi politik, sosial, ekonomi, budaya, dan hukum di Indonesia ia gambarkan lewat lukisan berisi kalimat petuah, kutipan, pantun, dan peribahasa. Di antaraya sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Ia memberinya judul singkat: Siapa Takut?. Atau pada karya Senjakala Demokrasi Indonesia, Pirous mengubah kutipan dari presiden kedua Filipina, Manuel L. Quezon, menjadi “My loyalty to my country ends where my loyalty to my party begins.”

Meski dikenal sebagai pelopor seni lukis kaligrafi di Indonesia, Pirous menolak disebut sebagai kaligrafer atau berdakwah lewat karya. Pirous menegaskan bahwa ia tetap seorang pelukis yang memakai unsur-unsur huruf dalam karyanya. Bukan hanya aksara Arab dan dari ayat suci Al-Quran, melainkan juga huruf Latin, Jepang, Cina dan Mesir kuno. Ia pun memadukannya dengan corak abstrak dan seni grafis.

Dengan gaya lukisan kaligrafinya itu, kalangan ulama pernah menuding Pirous seniman yang menjual ayat suci. “Saya tidak menjual ayat suci, tapi saya menjual lukisan saya. Dan tujuan lukisan saya itu memberikat sesuatu kepada kebaikan di dalam masyarakat. What’s wrong with that?” katanya. “Kaligrafi itu bukan kendaraan agama, melainkan kendaraan peradaban.”

Anwar Siswadi, Nurdin Kalim

Sumber Asli: Majalah Tempo, 3 Agustus 2014

PAMERAN ARSIP ARTIKEL #1

PAA-01-becoming-logo
ARSIP ARTIKEL

Berguru Pada Nisan Aceh

ARSIP ARTIKEL

Sang Imam Seni Kaligrafi

ARSIP ARTIKEL

Setelah Ja'u Timu

ARSIP ARTIKEL

Islamic Painting Pioneer

ARSIP ARTIKEL

Kisah Karung Goni

ARSIP ARTIKEL

The Equilibrium of Aesthetic and Ethic

Address

Jl. Bukit Pakar Timur II/111
Bandung, 40198
Indonesia.

Hours
Tuesday – Sunday:
10:00AM – 5:00PM

Phone

+62 22 2530966
(office hour only)