Serambi Pirous

Pameran Arsip Artikel Serambi Pirous

Hari ini tanggal 11 Maret 2021, A.D. Pirous berulang tahun yang ke-89.

“Daya kreatif itu tidak terhalang oleh usia. Selama ada kesempatan, saya akan melakukannya.” Itu yang dikatakannya ketika pameran ulang tahun ke-80. Hari ini Pirous berusia 89 tahun dan masih berkarya. Dengan usianya yang semakin lanjut, Pirous mengukur diri untuk mencari keseimbangan antara kekuatan kreatif yang besar dan kebutuhan untuk beristirahat dengan cukup. Salah satu jalan untuk berkompromi adalah mengecilkan ukuran karya untuk menghemat tenaga dengan tetap menjaga intensitas.

Menyambut hari lahir, Pirous ingin membagi kembali catatan-catatan kesenimanan yang ditulis oleh wartawan dan para kritik tentang dirinya dari berbagai majalah dan surat kabar. Seleksi dari artikel artikel lama yang diambil dari arsip perpustakaan Serambi Pirous menggambarkan sosok Pirous sebagai seniman dalam konteks kreativitas, spiritualitas, pemikiran kritis, dan aktivitas sosial seniman.

Serambi Pirous membuat 4 klasifikasi tema yaitu: perjalanan kesenimanan, cerita studio dan rumah, aspek spiritual, dan aktivitas sosial seniman. Berbagai artikel yang pernah ditulis akan ditampilkan untuk dibaca kembali. Serambi Pirous berharap bahwa artikel-artikel ini berguna untuk dibaca para pembelajar seni baik itu seniman muda, pelajar maupun peneliti. Selamat membaca.

Pameran Arsip Artikel #1

PAMERAN ARSIP ARTIKEL

#1: Becoming Pirous

Maret 2021

A.D Pirous diulas dalam banyak  tulisan sebagai seorang pelukis yang konsisten dalam mengembangkan seni rupa modern bernafaskan Islam. Posisi yang perlahan dibangun sesuai dengan kebutuhan politik kebudayaan Indonesia. Suatu identitas nasional yang sesuai dengan fakta mayoritas penduduknya yang beragama Islam. Maka publik seni kemudian menempatkan Pirous sebagai seorang Aceh yang membawakan kaligrafi Al Quran sebagai nafas utama dalam karya.

Namun Pirous sebetulnya tidak bermaksud untuk menjadi tokoh itu. Dari artikel-artikel yang tersaji kita dapat menemukan bahwa Pirous  awalnya adalah pemuda berbakat tukang gambar dari kota kecil di Aceh yang memutuskan untuk pergi menceburkan diri ke perguruan tinggi seni paling bergengsi dalam pikirannya yaitu Institut Teknologi Bandung. Di sana Ia menemukan suasana internasional sebagai calon seniman. Bertemu dengan ketajaman teknik, metode, aliran, perdebatan-perdebatan—termasuk perjumpaannya dengan market kesenian. Dia menjadi sangat modern dalam waktu singkat. Dia ingin menjadi pelukis dengan gairah universal yang sama seperti pelukis-pelukis yang membentuk kurikulum dunia.

Kalau pun kemudian Ia membawakan tema-tema Aceh yang sangat partikular atau Islam yang sektarian, Ia tidak membayangkan dirinya berada dalam posisi sebagai pelukis yang mengabdi pada kepentingan etnis dan agama. Tema-tema Aceh adalah metafora yang Ia gunakan dalam menjelaskan kompleksitas persoalan kebudayaan yang lebih luas. Tema-tema Al Quran digunakannya untuk menyampaikan pesan-pesan spiritual universal yang dirasanya penting.

Namun juga sulit bagi seorang seniman untuk dapat berdiri bebas tanpa terpengaruh politik. Pergulatan kesenian rupa di Indonesia tidak pernah lepas dari intervensi negara yang membutuhkan propaganda. Seniman sering kali masuk dalam pusaran ini misalnya menjadi seorang juru bicara nasionalis, atau menjadi seorang kritikus sosial melalui karya. Namun Pirous tampak ingin hati-hati untuk tidak terjerumus ke dalam pamflet politik ideologi tertentu. Tahun 1960-an, dia sudah mengenal tarik-menarik antara seni dan politik. Pirous memilih jalan untuk tetap kritis sebagai seniman. Seorang seniman menurutnya harus tetap berjalan dalam semangat estetik. Sebab pilihan itu akan membuatnya setia pada kesenimanan. Walau demikian, Pirous selalu merasa sebagai seorang nasionalis dalam versi yang paling romantik yaitu membela bangsa, tanah air dan negara.

Berbagai artikel ulasan misalnya dari Tempo (Berguru pada Nisan Aceh, Sang Imam Kaligrafi Indonesia) adalah contoh bagaimana Pirous menemukan sumber inspirasi seni tanpa harus bersikap membangga-banggakan Aceh dan Islam. Melainkan menempatkan unsur tersebut sebagai cermin untuk siapa pun dapat merefleksikan diri. Menjadi muslim dan Aceh hanyalah sebuah kebetulan dari perjalanan nasibnya sebagai manusia yang dilahirkan. Kelahiran yang membuatnya mengembara sebagai seniman. Dalam artikel A.D Pirous Setelah Ja’u Timu, Pirous merasa bahwa seorang seniman haruslah berproses dan bergerak tanpa henti. Barat adalah kurikulum yang tak dapat dihindari ketika seseorang bersekolah di sebuah negara yang baru merdeka dari kolonial. Siapa yang dapat menolak derap modernisme yang bagaikan sinar matahari menembus kegelapan? Namun perjalanan waktu juga yang membuatnya selalu gelisah dan ingin mencari-cari akar. Demikianlah Pirous yang kini berusia 89 tahun dan masih terus melukis.

PAMERAN ARSIP ARTIKEL #1

PAA-01-becoming-logo
ARSIP ARTIKEL

Berguru Pada Nisan Aceh

ARSIP ARTIKEL

Sang Imam Seni Kaligrafi

ARSIP ARTIKEL

Setelah Ja'u Timu

ARSIP ARTIKEL

Islamic Painting Pioneer

ARSIP ARTIKEL

Kisah Karung Goni

ARSIP ARTIKEL

The Equilibrium of Aesthetic and Ethic

Address

Jl. Bukit Pakar Timur II/111
Bandung, 40198
Indonesia.

Hours
Tuesday – Sunday:
10:00AM – 5:00PM

Phone

+62 22 2530966
(office hour only)