Serambi Pirous

Pameran Arsip Artikel #1

PAMERAN ARSIP ARTIKEL #1: BECOMING PIROUS

Berguru pada Nisan Aceh

Dipublikasikan di: Majalah Tempo, 1 April 2012.

Sebuah acara khusus digelar di Institut Teknologi Bandung untuk merayakan 80 tahun pelukis kaligrafi A.D. Pirous. Tulisan Arab yang sudah aus di kuburan-kuburan tua Aceh terus menerus menjadi inspirasinya.

Sinar merah vertikal itu melesat bersama sepasang garis luarnya yang bergetar. Bentuknya menjadi seperti senjata berliuk, gabungan antara sebilah pisau dan keris. Mereka menerobos bidang lapang berwarna kuning, merah, dan kecokelatan. Tabrakan warna itu membuat ujung garis menjadi mata anak panah runcing dan memunculkan warna hitam, seakan-akan membuat hangus di sekelilingnya. Lukisan Alif Menuju Langit itu mengesankan sebuah sinar yang perkasa.

Alif dalam deretan aksara bahasa Arab berada di awal. Bentuk penulisannya tak kaku sebagai garis lurus vertikal, tapi agak luwes dengan liukan tipis di bagian atas atau bawahnya. Bagi pelukisnya, Abdul Djalil Pirous, huruf alif dipakainya sebagai simbol nama Allah. Pada karya lain di kanvas yang tegas dibagi dua bidang oleh garis datar, ia memuja asma Tuhan dengan ejaan Arab lengkap beraneka warna, kontras dengan bidang bawahnya yang hanya berwarna hitam, cokelat, atau putih.

Merayakan milad A.D. Pirous, yang kini berusia 80 tahun, sejumlah alumnus serta dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung membuat acara khusus. Mereka menggelar pameran tunggal bertajuk “Ja’u Timu: Mengarahlah ke Timur” di dua galeri sejak 11 Maret hingga 8 April 2012. Seluruh ruang pamer di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, diborong unuk menampung 169 karya Pirous, mulai lukisan hingga esai, tesis, bahan kuliah, dan kliping koran. Sebanyak 40 karya seni grafis dari seniman kelahiran Meulaboh, Aceh, pada 11 Maret 1932 itu dipamerkan terpisah di Galeri Soemardja ITB, mulai Selasa pekan lalu hingga 8 April mendatang. Panitia pun mengadakan diskusi dan seminar untuk menunjukkan kiprah sang seniman di dunia seni dan pendidikan seni rupa Indonesia.

Lukisan abstrak mengawali gaya kariernya pada 1959-1965. Gaya itu, kata Pirous, mengagetkannya saat ada pameran lukisan Nasar, Affandi, dan lain-lain ketika ia masih di sekolah menengah atas di Medan. “Kok, bentuknya enggak keruan seperti itu?” katanya. Kemudian ia memutuskan menjadi mahasiswa Seni Rupa ITB pada 1955. Sempat terseret situasi politik dan menjadi pendukung Manifes Kebudayaan, ia kemudian memilih menyelesaikan skripsinya yang berjudul “Seni Pariwara Sebagai Alat Propaganda Perdjoangan” pada 1964. “Jadi seniman atau guru gambar? Saya pilih jadi guru, tapi mau melukis juga,” katanya.

Pada era itu, Pirous melukis abstrak, seperti Mentari Setelah September 1965 dan Pesta, yang dibuat pada 1968. Pesta menampilkan keriuhan warna dengan sapuan garis panjang dan pendek berbentuk persegi, lonjong, dan segitiga kecil-kecil. Gambar seraut wajah tampak samping muncul di kiri atas lukisan cat minyak itu. Sedangkan Liukan Tanaman Air buatan 1974 menampilkan batang duri berwarna hitam yang meliuk-liuk di antara latar warna kuning.

Setelah tragedi gempa dan tsunami Aceh 2004, Pirous berkisah tentang tanah kelahirannya itu dengan lukisan abstrak disertai tempelan pecahan tembikar. Pada karya buatan 2008-2009 tersebut, pecahan keramik yang ukuran dan bentuknya tak rata ia susun berbaris memanjang ke samping atau ke bawah. Pada karya berjudul Relik Tembikar, Aceh Darussalam I (Malam), misalnya, deret horizontal serpihan tembikar di bagian atas sepertiga kanvas itu seperti atap-atap rumah yang sunyi. Sebab, dua pertiga bidang di bawahnya kosong, hanya terisi warna biru tua dan hitam.

Di ITB, Pirous berhadapan dengan persoalan identitas dan nilai seni universal. Dia dididik dalam tradisi seni Barat oleh beberapa dosen asal Belanda, tapi ternyata karya seniman Indonesia tak diakui oleh mereka. Kenyataan pahit itu dijumpainya ketika Pirous dikirim ITB sehubungan dengan pembukaan jurusan baru desain grafis. Dia pergi ke Institut Teknologi Rochester, New York, Amerika Serikat, selama dua tahun (1969-1971). Sambil melihat dan mencatat program desain di sana, Pirous juga menimba ilmu seni grafis dan menyambangi sejumlah museum. “Saya terguncang. Di sana tidak ada karya seniman kontemporer Indonesia. Ke mana Affandi dan Mochtar Apin?” katanya.

Rasa galaunya pupus ketika menyaksikan pameran Islam di Metropolitan Museum of Art pada 1970. Suami pelukis Erna Garnasih itu merasa terlempar ke kampung halamannya. Seni bercorak Islam dengan hiasan dan rangkaian huruf Arab seperti itu jamak terlihat di masjid hingga makam di Aceh. terngiang lagi wasiat ayahnya agar Ia perlu ja’u timu, melihat ke Timur .Pulang ke Indonesia, Pirous menggali budaya Aceh dan Islam di kampungnya. Pada 1972, ia menggelar pameran lukisan kaligrafi pertama di Indonesia.

Menurut Pirous, ia mengembangkan bentuk penulisan sendiri berdasarkan teknik dan bahan yang dipakai. Ia melukis tanpa pena, seperti lazimnya kaligrafer Indonesia saat itu. Torehan huruf demi hurufnya langsung dari pisau palet berbahan cat minyak, akrilik, atau pasta pualam yang menebalkan tekstur objek pada kanvas. Karya pelopor itu tak pelak menimbulkan kontroversi dari kalangan seniman hingga ulama. Pirous menangkis sejumlah tudingan dengan bantahan ia sedang tidak berdakwah, tapi membuat catatan spiritualnya.

Salah sau lukisan kaligrafinya, Tulisan Putih, dinobatkan sebagai karya terbaik dalam Biennale Indonesia perdana pada 1974. Dalam perjalanannya, menurut Kenneth M. George dalam buku Melukis Islam, yang diluncurkan pada saat seminar seni rupa dan kebudayaan di Aula Barat ITB, Selasa pekan lalu, kesulitan membaca ayat Al-Quran pada lukisan Pirous menjadi dilema. Ia mengubah kaligrafi yang dibuatnya dengan ekspresif menjadi mudah dibaca seperti dalam Kitab Suci agar berguna buat orang lain.

Kurator pameran ini, Aminudin T.H. Siregar, mengatakan ada dua ciri khas kaligrafi Pirous. Pertama, bentuk kaligrafi yang dibuat sengaja tidak terbaca karena Pirous ingin membangun kesan kuno. Gagasan itu dipungutnya dari tulisan-tulisan Arab dan kaligrafi pada nisan di Aceh yang lapuk atau rusak sehingga tak jelas bacaannya. Adapun kaligrafi yang terbaca biasanya pada kutipan ayat, surat pendek Al-Quran dan hadist.

Ciri khas kedua ada pada pemakaian bahan. Menurut Aminudin, Pirous membuat kaligrafinya tak rata dengan kanvas. Ia menebalkan tekstur objek dengan pasta pualam, campuran serbuk marmer dan pasta yang bisa menempel di kanvas ketika kering. Gaya ini, ujar Aminudin, dikembangkan Pirous setelah belajar seni grafis dengan teknik etsa viscosity. Selain bisa bermain aneka warna, hasil karya di kanvas jadi punya kedalaman.

Menurut Pirous, ia tidak sekadar mengandalkan estetika, tapi juga mengutamakan pesan sekaligus menanggapi masalah yang terjadi, mulai pertikaian warga dan tentara Aceh hingga perilaku pejabat pada rezim Soeharto yang seakan-akan abadi berkuasa. Pada beberapa karya bertahun 2011, rasa muak Pirous terhadap kondisi sosial dan politik negerinya paling kini dibuat lebih benderang tanpa memakai ayat suci.

Di lukisan Etika Gonjang-ganjing antara Penguasa dengan Penguasa, misalnya, tertuang pantun berhuruf kapital yang berbunyi:”ada oebi ada talas, ada boedi ada balas”. Di sekelilingnya bertebaran kata seperti “mafia”, ”hakim”, ”korupsi”, “pajak”, dan “kuasa”. Sedangkan pada karya Siapa Takut?, dia memakai peribahasa “sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya”. Menurut Pirous, masalah bangsa yang terjadi saat ini akibat orang terlalu menoleh pada nilai dan budaya Barat. Sebelum benar-benar luntur dan menjauh, ia mengajak siapa saja melihat serta mengali nilai ketimuran.

Sumber Asli: Majalah Tempo, 1 April 2012.

PAMERAN ARSIP ARTIKEL #1

PAA-01-becoming-logo
ARSIP ARTIKEL

Berguru Pada Nisan Aceh

ARSIP ARTIKEL

Sang Imam Seni Kaligrafi

ARSIP ARTIKEL

Setelah Ja'u Timu

ARSIP ARTIKEL

Islamic Painting Pioneer

ARSIP ARTIKEL

Kisah Karung Goni

ARSIP ARTIKEL

The Equilibrium of Aesthetic and Ethic

Address

Jl. Bukit Pakar Timur II/111
Bandung, 40198
Indonesia.

Hours
Tuesday – Sunday:
10:00AM – 5:00PM

Phone

+62 22 2530966
(office hour only)