Serambi Pirous

Arsip Serambi Pirous

ARSIP SERAMBI PIROUS 002

Mengikuti Perjalanan Sang Pelukis

Dipublikasikan di: www.indonesiakreatif.net, 12 Maret 2012.

Penulis dan foto: Willam Muhamad

Bandung- Ja’u Timu adalah bahasa Aceh yang berarti mengarahlah ke timur. Kalimat itu menjadi tema pameran retrospektif 80 tahun A.D. Pirous berkiprah di dunia seni yang diselenggarakan oleh Selasar Sunaryo Art Space (SSAS). 

Pada konfrensi pers yang diadakan pada Kamis, 8 Maret 2012, kemarin di Bale Handap SSAS A.D. Pirous lebih jauh menerangkan makna kalimat Ja’u Timu adalah pesan ayahnya yang menjadi semangat dan terus dibawa oleh A.D. Pirous selama hidupnya.

“Secara filosofi makna mengarahlah ke timur itu adalah pergi ke arah matahari terbit dan disanalah kamu akan menemukan kehidupan baru” ucapnya.

Berkat pesan ayahnya itu beliau pergi dan belajar ke kota Bandung, dan hingga kinipun meski sudah melanglang buana mengadakan pameran dan menempa ilmu di berbagai negara A.D. Pirous tinggal di kota Bandung.

Sumbangsih pemikirannya terhadap dunia seni di Indonesia sudah tidak bisa dipungkiri. Sosok A.D. Pirous dikenal melalui karya lukisan kaligrafinya.

“Tapi kita juga ingin menunjukan sisi lain dari Pak A.D. Pirous, bahwa sebenarnya beliau adalah seniman multidimensi yang memiliki banyak segi” ucap kurator SSAS Agung Hujatnikajenong dalam pembukaan konfrensi pers siang itu.

Karena itu dalam rangka memperingati ulang tahun A.D. Pirous yang ke 80 digelar sebuah pameran tunggal yang beda dari biasanya. Pameran yang akan diadakan mulai tanggal 11 Maret 2012 – 08 April 2012 itu juga akan menampilkan banyak karya A.D. Pirous lainnya, antara lain gambar dan grafis, arsip, fotografi, hasil rekaman audio, visual, catatan renungan, materi perkuliahan, guntingan koran, dan lain-lain sebagainya.

Menurut kurator pameran Ja’u Timu yang juga menjadi salah satu pembicara pada konferensi pers di Bale Handap, Aminudin TH. SIregar, sosok A.D. Pirous adalah contoh teladan bagi seniman di manapun. 

“Karena Pak Pirous itu rajin sekali membuat arsip dan mengoleksi; karyanya sendiri, suatu hal yang jarang dan langka jika dibandingkan seniman biasanya” komentarnya.

Selain itu menurut Aminudin TH Siregar keragaman karyanya tersebut mematahkan mitos bahwa biasanya seiring dengan perjalanan seorang seniman maka karyanya akan mengerucut hingga menjadi suatu karya yang identic. Tapi tidak dengan A.D. Pirous.

Pada tahun 70an dia mempopulerkan seni lukis kaligrafi. Dimana itupun pada awalnya menggunakan huruf Arab gundul, seperti yang diterangkan oleh beliau sambil mengadakan tur ke ruang pameran. Gaya itu kemudian diubahnya lagi dengan menggunakan huruf Arab dengan tanda bacanya. Hingga akhirnya kini dia menggunakan huruf latin.

“Bagi saya kini gaya itu sudah tidak penting lagi, yang penting adalah apa yang ingin saya sampaikan pada orang banyak, dan bagaimana cara agar karya saya itu dapat dimengerti masyarakat” papar A.D. Pirous.

Baginya berkarya bukan lagi masalah ‘aku’ atau dirinya sendiri, tapi apa yang bisa dia berikan pada orang banyak. Hal itu adalah sebuah semangat universal yang dibawa A.D. Pirous dalam berkarya. Dia juga tidak peduli dengan klasifikasi yang diberikan padanya apakah dia seorang seniman modern atau kontemporer. Bagi pendiri jurusan studi desain grafis di Institut Teknologi Bandung itu semua bukan sebuah masalah, yang penting baginya adalah untuk terus berkarya.

Seperti juga ditunjukan olehnya dalam ruang pameran yang menampilkan karyanya sejak awal tahun 60an hingga lukisan yang dia baru selesaikan minggu kemarin. A.D. Pirous masih tetap produktif meskipun usianya sudah tidak lagi muda.

“Beliaulah yang mengatakan pada saya untuk menyimpan karya koleksi saya sendiri agar tidak semuanya dimiliki oleh orang lain. Dan berkat saran beliau itulah Selasar (Sunaryo Art Space) ini dibuat” ungkap Sunaryo.

Memang seluruh koleksi yang dipamerkan dalam Ja’u Timu ini adalah milik A.D. Pirous. Hal ini menjaga supaya agar karya-karya terbaiknya tetap dimiliki oleh dirinya, bukan oleh galeri asing ataupun pribadi lain. Untuk itu, A.D. Pirous tetap memegang idealismenya dan tidak semata berkarya untuk mendapat keuntungan.

“Saya ini memang kolektor lukisan-lukisan saya sendiri” kelakarnya.

Acara konferensi pers yang berlangsung selama kurang lebih dua jam itu ditutup dengan mengadakan tur ke beberapa ruang pameran. Sang artis A.D. Pirous memandu langsung para wartawan yang hadir sambil sesekali menceritakan makna dibalik karya-karyanya.

Sebelum acara usai, Aminudin TH Siregar mengatakan bahwa sejak dulu A.D. Pirous bermimpi agar Bandung bisa menjadi pusat kajian seni Asia, dan mempersilakan siapapun yang ingin mengkajinya untuk datang ke Bandung.

Kiranya hal itu bisa juga kita wujudkan dengan mengapresiasi karya A.D. Pirous dalam pameran tunggal Ja’u Timu yang menampilkan berbagai karyanya dari masa ke masa. Sungguh 80 tahun suatu periode waktu yang langka bagi seorang seniman untuk dapat terus berkarya. Dan seluruh perjalanan itu dapat kita saksikan bersama dalam pameran yang akan dibuka pada tanggal 11 Maret 2012 nanti. Selamat mengapresiasi dan semoga semangat A.D. Pirous tidak pernah padam, menjadi teladan bagi kita untuk selalu mengarah ke timur dan selalu menemukan kehidupan yang baru. Ja’u Timu. (wmn)

Sumber Asli: www.indonesiakreatif.net/index.php/id/news/read/1415, 12 Maret 2012

PAMERAN ARSIP ARTIKEL #1

PAA-01-becoming-logo
ARSIP ARTIKEL

Berguru Pada Nisan Aceh

ARSIP ARTIKEL

Sang Imam Seni Kaligrafi

ARSIP ARTIKEL

Setelah Ja'u Timu

ARSIP ARTIKEL

Islamic Painting Pioneer

ARSIP ARTIKEL

Kisah Karung Goni

ARSIP ARTIKEL

The Equilibrium of Aesthetic and Ethic

Address

Jl. Bukit Pakar Timur II/111
Bandung, 40198
Indonesia.

Hours
Tuesday – Sunday:
10:00AM – 5:00PM

Phone

+62 22 2530966
(office hour only)